Pengalaman Sukses Mengelola Pembelajaran Jarak Jauh

0 13

Oleh: Ayu Suchesty, S.Pd. (Guru BK SMPIT Permata Bunda Alawiyah)

Menjadi seorang guru bukanlah pengalaman pertama sejak saya bergabung pada Yayasan Daarul Hikmah Rajabasa Lampung namun menjadi seorang guru Bimbingan dan Konseling atau sering kita dengar dengan sebutan guru BK merupakan pengalaman pertama saya sejak saya lulus kuliah dan menyandang gelar Sarjana Pendidikan. Karena sebelumnya saya adalah seorang guru Sekolah Luar Biasa (SLB) yang mendampingi anak-anak berkebutuhan khusus (ABK). Sebuah tantangan baru untuk saya menjadi guru Bimbingan dan Konseling di lingkungan Sekolah Menengah Pertama. Seperti yang diketahui bersama peserta didik yang berada di SMP merupakan anak-anak yang sedang berada pada masa peralihan. Bukanlah hal yang mudah untuk menjadi seorang guru Bimbingan dan Konseling di SMP namun dengan pendampingan dari teman sejawat Alhamdulillah saya dapat menjalankan tugas-tugas saya sebagaimana mestinya.

Sejak Pandemi Covid-19 mulai masuk ke Indonesia tepatnya pada bulan Maret 2020, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menetapkan Belajar Di Rumah atau dikenal dengan BDR. Dalam kurun waktu beberapa bulan Pemerintah terus memperpanjang BDR dikarenakan kondisi Pandemi Covid-19 yang tak kunjung berakhir, semakin hari semakin banyak masyarakat yang terserang virus COvid-19 bahkan tidak sedikit pula dari masyarakat Indonesia harus sampai dirawat di rumah sakit. Bukan hanya masyarakat yang banyak terkena virus Covid-19 tetapi sedikit demi sedikit tenaga kesehatan juga terpapar Covid-19. Indonesia mengalami keterpurukan ekonomi yang cukup lama akibat Pandemi Covid-19 tersebut.

Tanpa kita sadari Pandemi Covid-19 sudah terjadi selama kurun waktu satu tahun, tetapi sampai saat ini Pandemi Covid-19 masih belum menunjukkan penurunan. Begitupun dengan aktivitas pembelajaran di sekolah, sudah satu tahun gedung sekolah kosong tak berpenghuni. Tidak ada lagi aktifitas peserta didik di sekolah yang dapat kita lihat seperti dahulu. Ruang kelas berdebu, rumput semakin meninggi dan lapangan sekolah pun mulai berlumut. Sungguh tidak dapat diekspresikan dengan kata-kata, seluruh penduduk sekolah rindu untuk bertemu, belajar bersama dalam satu kelas bersama teman-teman, sholat berjamaah dan menghafal bersama.

Para pendidik pun sangat merindukan kegiatan belajar yang seperti itu. Saya pun sangat merindukan ruang Bimbingan dan Konseling ramai dikunjungi para peserta didik. Sedih rasanya melihat keadaan dan kondisi sekolah yang selalu sepi tanpa peserta didik hadir bersama-sama di sekolah, Kami para guru saat ini hanya bisa menyapa, mengajar dan mendidik dari kejauhan, bertemu hanya secara virtual.

Selama BDR diberlakukan Bimbingan dan Konseling banyak dilibatkan dalam proses BDR, sebagaimana dipahami bahwa kehadiran Bimbingan dan Konseling di sekolah diperuntukkan bagi penyelesaian masalah peserta didik. BDR yang diterapkan pada masa Pandemi COvid-19 ini cenderung berpotensi besar mendatangkan masalah pada peserta didik. Saat ini sudah banyak peserta didik yang dapat dikatakan pecandu game. Akibatnya banyak peserta didik yang mengesampingkan belajar. Tidak hanya itu perubahan pola tidur pun mulai bergeser, waktu malam hari yang seharusnya digunakan untuk tidur dan istirahat kini berubah menjadi pagi hari sampai menjelang siang hari. Perubahan fisik peserta didik pun menjadi perhatian para pendidik, banyak dari peserta didik yang memiliki kantung mata bahkan sangat terlihat seperti mata panda. Selain itu mulai muncul penurunan nilai karakter peserta didik, hal ini jelas terlihat dari komunikasi pada gurunya dan kesediaan peserta didik menaati perintah guru dalam mengumpulkan tugas yang diberikan.

Peran guru Bimbingan dan Konseling tidak bisa serta merta tergantikan oleh guru mata pelajaran. Guru Bimbingan dan Konseling sangat erat kaitannya dengan pendidikan karakter yang menjadi sebab langsung atau tidak langsung akan rendahnya capaian hasil belajar peserta didik. Guru Bimbingan dan Konseling tetap meberikan motivasi serta penguatan pada peserta didik selama menjalani Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) selama Pandemi Covid-19 ini. Proses belajar diterapkan dengan memanfaatkan beberapa aplikasi pendukung untuk memfasilitasi peserta didik yang memilih belajar dengan system daring seperti Google Classroom, Google Form, Zoom, Whatsapp, Google Meet, dan lain-lain.  

Setelah  memasuki new normal atau kenormalan baru, pembelajaran masih tetap berjalan sama yaitu dilakukan secara daring. Begitupun dengan Bimbingan dan Konseling untuk ketercapaian perkembangan peserta didik secara optimal dalam bidang pribadi, social, belajar dan karir masih dilakukan secara daring dengan melibatkan pihak-pihak antara lain kepala sekolah, staf administrasi, wali kelas, guru mata pelajaran, dan orang tua.

Selama new normal guru Bimbingan dan Konseling tetap dapat memberikan layanannya sesuai program layanan yang telah disusun, dengan memuat empat komponen layanan yaitu layanan dasar, layanan responsive, layanan perencanaan dan peminatan peserta didik. Dalam masa Pandemi Covid-19 seperti ini guru Bimbingan dan Konseling dapat berinovasi dengan tetap memberikan layanan informasi, contohnya informasi mengenai sekolah lanjutan yang akan dituju oleh para peserta didik. Selain itu guru Bimbingan dan Konseling juga tetap memberikan layanan responsive, contohnya tetap berkomunikasi dengan peserta didik dan orang tua melalui video call ataupun telepon.

Metode yang awalnya dalam perencanaan atau yang dikenal dengan Rencana Pelaksanaan Layanan (RPL) disajikan dalam betuk tatap muka diubah menjadi Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Harapannya Bimbingan dan Konseling tetap menyenangkan, mudah diingat, dan dapat diterapkan dalam kehidupan seharai-hari. Dalam pelaksanaannya Bimbingan dan Konseling banyak menyajikan video-video yang berasal dari youtube dengan maksud materi dapat tersampaikan pada peserta didik sesuai dengan kebutuhan para peserta didik.

Terkhusus untuk peserta didik yang duduk di kelas 9 yang tidak lama lagi akan menghadapi Ujian Sekolah (US), guru Bimbingan dan Konseling memberikan angket penelusuran minat dalam bentuk Google Form (GF). Angket penelusuran minat ini diberikan sebagai bentuk layanan responsive guru Bimbingan dan Konseling kepada peserta didik dengan tujuan para peserta didik dapat mengetahui minat mereka untuk melanjutkan sekolah berikutnya. Jadi harapan guru Bimbingan dan Konseling disini tidak hanya untuk memberikan layanan kepada peserta didik melainkan juga untuk mengarahkan para peserta didik agar tidak salah melangkah menempuh masa depan mereka.

Selain itu layanan responsive guru Bimbingan dan Konseling saat ini yaitu dengan membentuk grup-grup pada whatsapp untuk mempermudah melakukan konseling kelompok sesama peserta didik. Dengan adanya konseling kelompok para peserta didik dengan mudah mengungkapkan permasalahan yang sedang dihadapinya melalui whatsapp. Harapannya peserta didik dapat terlayani dengan baik walaupun tidak melalui tatap muka.

Cerita singkat yang saya alami ketika peserta didik akan menghadapi Latihan Ujian Sekolah (LUS) beberapa waktu yang lalu, banyak guru mata pelajaran yang mengkhawatirkan sebagian kecil peserta didik pada setiap kelas tidak dapat mengikuti LUS secara tertib dan tepat waktu sedangkan system LUS yg diterapkan menggunakan timer jadi bagi peserta didik yang keterlambatan untuk absensi kehadiran tidak akan dapat mengikuti LUS.

Berangkat dari kekhawatiran inilah guru Bimbingan dan Konseling bekerja sama dengan manajemen sekolah, wali kelas, guru mata pelajaran, dan orang tua untuk mengingatkan kembali peserta didik yang menjadi catatan dalam proses pembelajaran selama ini. Setiap hari guru Bimbingan dan Konseling dibantu oleh wali kelas untuk mengingatkan peserta didik agar merubah pola belajarnya demi masa depan mereka. Meskipun pencapaian akademiknya masih dikatakan belum maksimal tapi terlihat bahwa para peserta didik terpacu untuk merubah pola belajar mereka. Seperti yang telah disampaikan oleh Dinas Pendidikan bahwa hasil akhir nilai Latihan Ujian Akhir Sekolah akan dimasukkan ke dalam nilai raport perserta didik. Banyak dari peserta didik yang mengkhawatirkan hasil LUS. Tetapi dengan menguatkan mereka insyaAllah ke depannya peserta didik dapat lebih baik lagi dalam mengatur wajtu mereka untuk memfokuskan persiapan Ujian Nasional (UN) agar hasil yang dicapai pun baik. Insyaallah semua ini dapat berproses dengan baik sesuai harapan semua pihak, semoga Allah mudahkan.

Demikian penyampaian pengalaman sukses mengelola pembelajaran jarak jauh dari seorang guru Bimbingan dan Konseling di SMP IT Permata Bunda Alawiyah.

Leave A Reply

Your email address will not be published.